Karena cuaca sedang tidak bersahabat, sebagian besar nelayan di pelabuhan perikanan Pantai Tegalsari, Kota Tegal, enggan melaut. Dari sekitar 800 nelayan di Kota Tegal, kurang dari 100 orang kini masih mengarungi laut dengan bermacam jenis kapal.
Mahmud mengatakan, cuaca buruk menjadi langganan nelayan pantura tiap Desember hingga Februari. "Puncak cuaca buruk itu biasanya mulai Januari," katanya. Selama menunggu ombak mereda, para nelayan mengisi waktu untuk memperbaiki jaring dan alat tangkap mereka.
Akibat cuaca buruk, sebuah kapal Bangkit Jaya I asal Kota Tegal karam di laut sekitar 20 mil dari Kalimantan Tengah, Sabtu pagi, 21 Desember. Hingga Ahad ini, baru satu dari 20 awaknya yang ditemukan dalam kondisi selamat.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Semarang juga mengingatkan kondisi laut Jawa saat ini sedang tak baik untuk pelayaran.
Menurut prakirawan BMKG Maritim Semarang, Winarti, data analisa cuaca Ahad hari ini menunjukan kondisi gelombang laut Jawa di pinggir 2 meter dan di tengah antara Pulau Jawa dan Kalimantan mencapai 5 meter.
Kondisi gelombang itu, katadia, disebabkan oleh kecenderungan angin barat laut dan tekanan suhu rendah di kawasan pulau Bali. Winarti memastikan terjadi penarikan angin ke tekanan suhu udara rendah di daerah Bali dan sekitar Austaralia itu sehingga berpengaruh pada tinggi gelombang. "Tekanan rendah itu tepatnya di selatan equator," kata Winarti.
Ia mengimbau agar pelayaran nelayan, khusus perahu kecil agar tak melaut, imbauan yang ia sampaikan itu untuk mengantisipasi bencana akibat terjangan gelombang laut Jawa yang sedang tak bersahabat.(tmp//red)
loading...
»Share or Like News:
Tegal, Ombak Tinggi, Nelayan Jawa Tengah Takut Melaut


