JAKARTA - Ketua Bidang
Pemberdayaan Perempuan dan Anak Nelayan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh
Indonesia) Sandra Paramarthi Siswaryudi, bersama rekan-rekannya dari
HNSI berupaya melakukan perbaikan kehidupan para nelayan yang saat ini
semakin memprihatinkan. Ia mengarahkan para istri nelayan untuk membuat
kerajinan tangan dari benda-benda laut seperti kerang.
Kehidupan
nelayan tradisional saat ini tidak hanya menghadapi tantangan dengan
banyaknya kapal ikan berukuran besar yang menggunakan alat tangkap
canggih, namun nasib mereka juga memprihatinkan akibat berkurangnya
hasil tangkapan. Imbasnya adalah kehidupan keluarga yang kian hari kian
tidak menentu.
“Beberapa kerajinan tangan yang kami ajarkan
kepada mereka adalah membuat bros, kalung, tas, atau kerajinan tangan
lain,” ujar Sandra yang saat ini tengah berjuang agar hasil kerajinan
tangan para isteri nelayan di 13 Kampung halaman nelayan, Serang, Banten
tersebut bisa masuk pasar dunia agar perekonomian keluarga nelayan bisa
menjadi lebih baik.“Tidak semua hasil tangkapan mereka laku
terjual di pasaran. Sisa ikan yang tidak terjual itulah yang harus bisa
mereka manfaatkan untuk membuat berbagai macam penganan, seperti membuat
sate banten atau abon ikan yang bisa mereka jual. Selain itu, para
istri juga didorong untuk memproduksi jala ikan, pukat, dan alat melaut
lain untuk suaminya pergi melaut” ujarnya.Saat ini, menurut
Sandra, nelayan tradisional semakin terpinggirkan dengan banyaknya
nelayan tangkap yang menggunakan kapal dan peralatan yang lebih canggih.
Ironisnya, ketidakberpihakan pemerintah terhadap nelayan tradisional
semakin memperparah kehidupan mereka.
Sandra berharap,
masalah-masalah seperti, kurangnya bahan bakar bersubsidi untuk nelayan
tradisional bisa diselesaikan dengan bekerjasama dengan Dinas Perikanan.“Karena,
selain masalah bahan bakar, nelayan tradisional sudah dihadapkan pada
berbagai macam permasalahan seperti cuaca dan kerasnya kehidupan di
laut. Mereka hanya nelayan dan akan selamanya menjadi nelayan. Itu
sebabnya kami mengkonsentrasikan diri terus menerus para keluarga
nelayan yang menjadi warisan budaya Indonesia,” ujar Sandra yang juga
terus menerus memberikan pendidikan tentang batas laut Indonesia kepada
para nelayan.
“Nelayan kerap tertangkap polisi laut negeri
tetangga. Itu semua akibat ketidaktahuan mereka tentang batas laut
Indonesia,” jelas wanita yang juga pernah aktif di Kerukunan Usaha Kecil
Menengah.(trb/red)
JAKARTA - Ketua Bidang
Pemberdayaan Perempuan dan Anak Nelayan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh
Indonesia) Sandra Paramarthi Siswaryudi, bersama rekan-rekannya dari
HNSI berupaya melakukan perbaikan kehidupan para nelayan yang saat ini
semakin memprihatinkan. Ia mengarahkan para istri nelayan untuk membuat
kerajinan tangan dari benda-benda laut seperti kerang.Kehidupan nelayan tradisional saat ini tidak hanya menghadapi tantangan dengan banyaknya kapal ikan berukuran besar yang menggunakan alat tangkap canggih, namun nasib mereka juga memprihatinkan akibat berkurangnya hasil tangkapan. Imbasnya adalah kehidupan keluarga yang kian hari kian tidak menentu.
“Beberapa kerajinan tangan yang kami ajarkan kepada mereka adalah membuat bros, kalung, tas, atau kerajinan tangan lain,” ujar Sandra yang saat ini tengah berjuang agar hasil kerajinan tangan para isteri nelayan di 13 Kampung halaman nelayan, Serang, Banten tersebut bisa masuk pasar dunia agar perekonomian keluarga nelayan bisa menjadi lebih baik.“Tidak semua hasil tangkapan mereka laku terjual di pasaran. Sisa ikan yang tidak terjual itulah yang harus bisa mereka manfaatkan untuk membuat berbagai macam penganan, seperti membuat sate banten atau abon ikan yang bisa mereka jual. Selain itu, para istri juga didorong untuk memproduksi jala ikan, pukat, dan alat melaut lain untuk suaminya pergi melaut” ujarnya.Saat ini, menurut Sandra, nelayan tradisional semakin terpinggirkan dengan banyaknya nelayan tangkap yang menggunakan kapal dan peralatan yang lebih canggih. Ironisnya, ketidakberpihakan pemerintah terhadap nelayan tradisional semakin memperparah kehidupan mereka.
Sandra berharap, masalah-masalah seperti, kurangnya bahan bakar bersubsidi untuk nelayan tradisional bisa diselesaikan dengan bekerjasama dengan Dinas Perikanan.“Karena, selain masalah bahan bakar, nelayan tradisional sudah dihadapkan pada berbagai macam permasalahan seperti cuaca dan kerasnya kehidupan di laut. Mereka hanya nelayan dan akan selamanya menjadi nelayan. Itu sebabnya kami mengkonsentrasikan diri terus menerus para keluarga nelayan yang menjadi warisan budaya Indonesia,” ujar Sandra yang juga terus menerus memberikan pendidikan tentang batas laut Indonesia kepada para nelayan.
“Nelayan kerap tertangkap polisi laut negeri tetangga. Itu semua akibat ketidaktahuan mereka tentang batas laut Indonesia,” jelas wanita yang juga pernah aktif di Kerukunan Usaha Kecil Menengah.(trb/red)
Bantu Perbaiki Nasib, Istri Nelayan Diajarkan Kerajinan Tangan
Posted by Admin Sunday, 29 December 2013
loading...
»Share or Like News:
Bantu Perbaiki Nasib, Istri Nelayan Diajarkan Kerajinan Tangan
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
15:26:00
