“Di Gersik saja ada dua kelompok tani karet dengan luasan 124 hektare.
Belum lagi di daerah lain. Jadi, sudah saatnya pemerintah atau swasta
membantu petani dengan membangun pabrik pengolah karet,” kata Ketua
Kelompok Tani Karet Sejahtera Jaya, Gersik, Ambo Dalle Bastian, kemarin.
Kelompok tani yang dipimpinnya beranggotakan 36 orang dengan luasan tanah yang digarap 74 hektare. Sedangkan, kelompok tani lainnya beranggotakan 28 orang memberdayakan luasan tanah 50 hektare. Ia mengatakan, tanaman karet rata-rata berumur 4-5 tahun. “Ada juga yang baru ditanam,” ujarnya.
Dikatakannya, satu hektare berisi 500 sampai 536 pohon karet, yang setiap hektarenya mampu menghasilkan 500 kilogram getah setiap kali panen.
“Sekarang harga getah karet sedang baik mengikuti kurs dolar. Satu kilogramnya mencapai harga Rp 10 ribu. Jadi, setiap kali panen rata-rata petani karet membawa pulang Rp 5 juta,” katanya.
Sayangnya, lanjut dia, persoalan kerusakan jalan yang belum teratasi, dan tidak adanya pabrik pengolahan karet menyebabkan tengkulak mempermainkan harga semaunya sendiri.
“Tidak ada pilihan lain bagi petani selain menerima saja harga yang diberikan tengkulak. Karena, kalau mau jual getah langsung harus ke Barabai, Kalsel. Dengan kondisi jalan rusak sangat tidak mungkin mengangkut getah sampai ke sana,” katanya.
Sebagai ketua kelompok tani, ia minta pemerintah memfasilitasi pembangunan pabrik pengolahan karet. Menurut dia, sudah saatnya berdiri pabrik pengolah getah ini di Penajam Paser Utara. Ia mengutip data Dinas Perkebunan setempat, luasan tanaman karet di daerah ini mencapai 70.000 hektare lebih. “Kalau dilihat dari luasan hektare tanaman karet, saya kira, seharusnya sudah dibangun pabrik,” katanya.
Seperti diwartakan, tiga kelurahan Gersik, Jenebora, Pantailango, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara terisolasi akibat satu-satunya jalan penghubung ke ibukota kecamatan dan desa lain di kawasan itu, rusak parah. Warga menggambarkan tingkat kerusakan jalan sepanjang 17 kilometer yang melewati area perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan perusahaan tambang batu bara, itu, seperti sawah.
Jalan ini merupakan akses tunggal jalan darat dan sudah lama dikeluhkan warga pada tiga kelurahan. Imbas negatif akibat rusaknya jalan tersebut sangat dirasakan para petani karet pada tiga kelurahan itu, karena menjadi kendala pengiriman getah karet kepada pembeli di luar daerah. Tidak hanya itu, kerusakan jalan jadi alasan para pembeli getah karet untuk mempermainkan harga. (red/lhl)
loading...
»Share or Like News:
Petani Karet Minta Pabrik

