Kondisi sekarang, lanjutnya, cukup berat karena berbarengan dengan penaikan harga elpiji 12 kilogram (kg) yang memicu kenaikan harga pangan di daerah setempat.
"Nelayan berhenti total melaut. Kondisi ini sampai cuaca membaik, diperkirakan hingga Maret," tegasnya.
Bagi nelayan yang memiliki kebun, mereka kembali mengolah lahan. Sedangkan yang tergolong keluarga prasejahtera harus bekerja keras menyambung hidup sebagai kuli bangunan dan jasa ojek.
Sebagian nelayan lainnya sudah terjerat hutang di perorangan maupun koperasi. Mereka berhutang karena tabungan sudah habis untuk menutup kebutuhan. Pantauan selama ini, istri nelayan juga mulai menjual perhiasan yang di beli dari hasil jualan ikan sebelumnya.
Sedangkan kondisi tempat pelelangan ikan di Pondokdadap kawasan pantai itu tidak ada aktivitas jual beli ikan. "Mereka terpaksa berhutang untuk menyambung hidup selama musim paceklik ini," ujarnya.
Ia menjelaskan cuaca buruk di pantai selatan Jawa terjadi angin kencang, ombak mencapai 4 meter hingga menyentuh bibir pantai. Sangat berbahaya bisa mengancam keselamatan bila nekat melaut.
"Kondisi ini dialami nelayan setiap tahun, dan memang seperti ini nasib nelayan," tuturnya.
Ia mengungkapkan jumlah nelayan di Sendangbiru mencapai 2.544 orang tergabung dalam 552 armada perahu payang, jukung, dan sekoci.
Kendati kehidupan mereka sekarang memprihatinkan, tapi organisasi nelayan setempat tidak meminta bantuan bahan pokok ke Pemerintah Kabupaten Malang.
Pasalnya mereka merasa jengah, sebab Pemkab selalu terlambat dalam memberikan bantuan kendati pengurus organisasi sudah menyerahkan data nelayan miskin.
"Kami memutuskan tidak meminta bantuan. Percuma saja, bantuan kerap datang terlambat. Tahun kemarin, datangnya bantuan setelah cuaca bagus dan nelayan mulai melaut," tukasnya.(mtr/red)
loading...
»Share or Like News:
Cuaca Buruk, Ribuan Nelayan Terbelit Hutang

