DEMAK, — Hampir tiga pekan ini area persawahan di wilayah Kabupaten Demak dilanda banjir. Dapat dipastikan padi yang sudah terendam berminggu-minggu tersebut kualitasnya akan menurun drastis. Produksi gabah menjadi hitam dan banyak yang tidak dapat tumbuh maksimal karena lembab.
Akhmadi (50), petani Desa Kedunguter, Kecamatan Karangtengah, Demak, Senin (10/2/2014), kepada wartawan mengatakan, ia dan petani lainnya terpaksa memanen padi dengan cara menyelam di bawah air karena ketinggian air di lahan pertanian masih setinggi dada orang dewasa.
"Saat banjir seperti ini kami rugi karena padi belum cukup umur harus sudah dipanen. Ongkos panen juga tambah mahal soalnya ngarit (memotong) padinya harus sambil menyelam. Otomatis waktu yang dibutuhkan juga lebih lama. Padahal, bayarnya kan harian. Jadi kalau ditotal lebih mahal," keluh Akhmadi.
diberitakan Kompas.com,Petani lainnya, Musolekah (46), juga memanen lebih awal meski usia tanaman padi miliknya belum memasuki masa panen untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. "Kami terpaksa panen dini, walaupun nantinya harga gabah murah, daripada membusuk malah tidak laku," keluh Musolekah, petani Desa Pilangsari, Kecamatan Sayung, Demak.
Sementara itu, menurut Sunari, anggota Komisi C DPRD Demak, ribuan hektar sawah di wilayah Kecamatan Sayung dan Karangtengah masih tergenang banjir dengan ketinggian air mencapai 1,5 - 2 meter.
Selain curah hujan tinggi, genangan banjir yang merendam sawah petani lama surut karena tersumbatnya saluran irigasi akibat proyek pengerukan pabrik yang berada di sepanjang jalan pantura sehingga aliran air menjadi tidak lancar.
"Setelah cuaca ekstrem berlalu, diharapkan ada penanganan serius oleh dinas terkait untuk melancarkan air yang tersumbat. Upaya penanganan yang dilakukan berupa normalisasi saluran irigasi dan peninggian tanggul-tanggul sungai di sekitar area pertanian," katanya.(kmp)
loading...
»Share or Like News:
Banjir Setinggi Dada, Petani Menyelam Saat Panen

