INDRAMAYU - Kalangan petani di Kabupaten Indramayu mengeluhkan ketiadaan pupuk urea yang sudah berlangsung kurang lebih seminggu terakhir.
Petani yang membutuhkan pupuk umumnya adalah penggarap lahan yang baru saja melakukan penanaman ulang padi akibat terkena banjir beberapa bulan lalu.
Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan dari Kecamatan Cantigi, Sikin mengatakan, sudah seminggu terakhir para petani di kecamatannya susah menemukan pupuk. Kios-kios yang menjual pupuk urea secara eceran pun tidak memiliki pasokan lagi.
"Sempat ada bantuan pupuk dari Kecamatan Widasari, sekitar satu truk. Tapi, itu akhir bulan lalu, karena pada saat itu juga sebenarnya pupuk sudah mulai langka," ujarnya, Selasa (25/3/2014).
Dia menambahkan, mereka yang sangat membutuhkan pupuk terutama adalah petani yang sawahnya sempat terendam banjir, dan saat ini sedang melakukan penanaman ulang padi.
"Beberapa areal sawah ada yang sudah mulai panen, tapi ada beberapa yang harus menanam ulang, karena mengalami puso akibat banjir," tuturnya.
Kelangkaan pupuk urea juga dibenarkan oleh Koordinator Asosiasi Pengecer Pupuk Kecamatan Arahan, Jaidi. Dia mengatakan, harga pupuk menjadi naik akibat kelangkaan itu, dari sekitar Rp 180 ribu per kuintal, menjadi Rp 200 ribu per kuintal.
"Padahal, Gudang Lini III milik PT Pupuk Kujang masih ada stok, sekitar 2.000 ton. Tapi, saya tidak tahu kenapa stok itu tidak dikeluarkan," tuturnya.
Selain di tingkat pengecer, para distributor juga mengakui adanya kelangkaan pupuk di wilayah Indramayu. Perusahaan milik daerah yang menangani distribusi pupuk untuk Kecamatan Krangkeng, Karangampel, dan Balongan, yakni PT Bumi Wiralodra Indramayu, tidak memiliki pasokan pupuk selama seminggu terakhir.
Direktur Operasional PT BWI, John Badruddin mengatakan, kebutuhan pupuk yang datang dari daerah operasionalnya pada bulan ini mencapai 180 ton, namun pasokan yang dikirim dari PT Pupuk Kujang sebanyak 64 ton. "Saat itu pasokannya datang pada tanggal 5 Maret, dan keesokan harinya juga sudah habis," kata dia.
Kelangkaan pasokan juga, menurut Badruddin, tidak hanya terjadi pada bulan Maret saja, namun juga Februari 2014. Dia menuturkan, kebutuhan pupuk dari daerah operasionalnya sebanyak 500 ton, namun pasokan yang dikirimkan sebanyak 227 ton.
"Kelangkaan pupuk bukan karena permainan distributor atau apa lah. Namun karena memang kiriman dari produsennya tidak ada," ujarnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Takmid, membenarkan adanya keluhan kelangkaan pupuk dari petani. Dia mengatakan, pihaknya akan berupaya mengajukan alokasi tambahan ke Kementrian Pertanian dalam anggaran perubahan.
"Mudah-mudahan tidak berlangsung lama. Saya dengar dari produsen juga yang sedang ada perubahan manajemen, sehingga mungkin jadi lebih berhati-hati dalam menyalurkan pupuk. Selain itu, karena ada bencana beberapa bulan kemarin, sehingga alokasi pupuk bertambah," ujarnya.
Manajer Humas PT Pupuk Kujang, Ade Cahya Kurniawan mengatakan, stok pupuk di gudang memang ada. Namun pihaknya tidak bisa menyalurkan lagi stok pupuk tersebut. Pasalnya, pupuk yang telah disalurkan dan diserap, sudah melebihi alokasi yang telah ditetapkan dalam Peraturan Gubernur.
Dia mengaku, tidak bisa seenaknya menyalurkan pupuk bersubsidi tersebut, karena hal itu menyangkut juga persoalan audit pada akhir tahun nanti.
Dia menyebutkan, khusus untuk wilayah Indramayu, alokasi pupuk untuk Maret yang ditetapkan dalam Pergub sebesar 3.118 ton, sedangkan realisasinya sudah mencapai 3.183 ton, atau 102 persen.
Adapun selama Januari-Maret, alokasi pupuk yang ditetapkan sebesar 12.711 ton, sedangkan serapannya mencapai 15.531 ton, atau 122 persen.
Berdasarkan angka tersebut, dia mengatakan, pihaknya tidak bisa serta-merta mengeluarkan lagi pupuk bersubdisi, karena selama ini pun penyalurannya sudah melebihi batas alokasi. "Kecuali kalau memang ada kenaikan alokasi, dan itu tergantung dari Pergubnya," kata dia.//pr
loading...
»Share or Like News:
Petani Indramayu Keluhan Pasokan Pupuk Tidak Ada

