KUNINGAN - Para penghuni rumah terancam longsor di lingkungan
RT 8 RW 2 dan sekitarnya di Dusun Ciawitali, Desa Cimenga, Kecamatan
Darma, Kabupaten Kuningan, sudah hampir sebulan dihantu ancaman bencana
tersebut.
Sementara upaya penanggulangan terhadap ancaman longsornya hingga
saat ini baru dilakukan masyarakat dengan menutupi alur retakan tanah
serta pembuatan saluran air darurat di atas alur retakan.
Kepala Urusan Umum Desa Cimenga Ernawan, menyebutkan karena ancaman
itu, warga di lingkungan RT 8 dan 11 di dusun itu, setiap hujan terpaksa
mengungsi sementara ke rumah-rumah tetangganya.
"Pengamatan kami dalam seminggu terakhir sepertinya perkembangan
gerakan tanah terancam longsornya, tidak begitu ekstrem. Namun, potensi
ancaman longsornya memang masih sangat mengkhawatirkan," ujar Ernawan,
kepada Pikiran Rakyat, Minggu (16/3/2014).
Kondisi demikian, juga dikemukakan staf pelaksana teknis Seksi
Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kabupaten
Kuningan Sofyan.
"Dilihat dari posisi lahan dan tanda-tanda pergerakan tanah terancam
longsor di Ciawitali, hampir mirip dengan kasus pergerakan tanah disusul
kejadian longsor yang terjadi di Dusun Bangbayang, Desa Cilebak,
Kecamatan Cilebak, akhir tahun 2012 lalu," kata Sofyan.
Berdasarkan hasil peninjauan pihaknya, menurut Sofyan, jumlah rumah
berada di bawah alur retakan tanah di Dusun Ciawitali, mencapai puluhan
rumah. Dan, yang posisinya paling rawan ada sekitar 18 rumah di
lingkungan RT 8.
Sementara itu, sebagaimana diberitakan sebelumnya, sedikitnya 30
rumah penduduk di Dusun Ciawitali, kini dalam posisi terancam longsor
dari lereng perbukitan di atasnya. Pada lereng perbukitan berupa lahan
perkebunan penduduk di atas puluhan rumah tersebut, terdapat alur
retakan tanah memotog lereng sepanjang hampir 100 meter diserta tanah
ambles.
Alur retakan disertai tanah ambles itu, menurut keterangan perangkat
desa dan sejumlah warga di dusun tersebut, mulai terlihat pascahujan
lebat tanggal 19 Februari 2014.
Sementara upaya penanggulangan yang telah dilakukan, sampai saat ini
baru bersifat pengananan tanggap darurat. Menutupi dan pemadatan
sepanjang alur retakan dengan tanah, membuat saluran air di bagian atas
alur retakan, serta mengurangi baban lahan dengan menebang pepohonan
pada area lahan terancam longsor.//prlm
KUNINGAN - Para penghuni rumah terancam longsor di lingkungan
RT 8 RW 2 dan sekitarnya di Dusun Ciawitali, Desa Cimenga, Kecamatan
Darma, Kabupaten Kuningan, sudah hampir sebulan dihantu ancaman bencana
tersebut. Sementara upaya penanggulangan terhadap ancaman longsornya hingga saat ini baru dilakukan masyarakat dengan menutupi alur retakan tanah serta pembuatan saluran air darurat di atas alur retakan.
Kepala Urusan Umum Desa Cimenga Ernawan, menyebutkan karena ancaman itu, warga di lingkungan RT 8 dan 11 di dusun itu, setiap hujan terpaksa mengungsi sementara ke rumah-rumah tetangganya.
"Pengamatan kami dalam seminggu terakhir sepertinya perkembangan gerakan tanah terancam longsornya, tidak begitu ekstrem. Namun, potensi ancaman longsornya memang masih sangat mengkhawatirkan," ujar Ernawan, kepada Pikiran Rakyat, Minggu (16/3/2014).
Kondisi demikian, juga dikemukakan staf pelaksana teknis Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kabupaten Kuningan Sofyan.
"Dilihat dari posisi lahan dan tanda-tanda pergerakan tanah terancam longsor di Ciawitali, hampir mirip dengan kasus pergerakan tanah disusul kejadian longsor yang terjadi di Dusun Bangbayang, Desa Cilebak, Kecamatan Cilebak, akhir tahun 2012 lalu," kata Sofyan.
Berdasarkan hasil peninjauan pihaknya, menurut Sofyan, jumlah rumah berada di bawah alur retakan tanah di Dusun Ciawitali, mencapai puluhan rumah. Dan, yang posisinya paling rawan ada sekitar 18 rumah di lingkungan RT 8.
Sementara itu, sebagaimana diberitakan sebelumnya, sedikitnya 30 rumah penduduk di Dusun Ciawitali, kini dalam posisi terancam longsor dari lereng perbukitan di atasnya. Pada lereng perbukitan berupa lahan perkebunan penduduk di atas puluhan rumah tersebut, terdapat alur retakan tanah memotog lereng sepanjang hampir 100 meter diserta tanah ambles.
Alur retakan disertai tanah ambles itu, menurut keterangan perangkat desa dan sejumlah warga di dusun tersebut, mulai terlihat pascahujan lebat tanggal 19 Februari 2014.
Sementara upaya penanggulangan yang telah dilakukan, sampai saat ini baru bersifat pengananan tanggap darurat. Menutupi dan pemadatan sepanjang alur retakan dengan tanah, membuat saluran air di bagian atas alur retakan, serta mengurangi baban lahan dengan menebang pepohonan pada area lahan terancam longsor.//prlm Redaksi 15:39:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Setiap Hujan Penghuni Belasan Rumah di Ciawitali Terpaksa Mengungsi
Posted by Admin Monday, 17 March 2014
loading...
»Share or Like News:
Setiap Hujan Penghuni Belasan Rumah di Ciawitali Terpaksa Mengungsi
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
15:39:00
