MAJALENGKA – Sejumlah pengusaha genting di Kabupaten Majalengka mengaku
kesulitan untuk merekrut karyawan di pabrik miliknya. Pasalnya, seiring
memasuki musim tanam kali ini, sejumlah pekerja memilih sementara untuk
berganti menjadi buruh tani.
Salah seorang pengusaha genting, Asep mengatakan peristiwa ini kerap
menjadi langganan setiap tahunnya atau memasuki musim tanam padi.
Seperti halnya musim tanam kali ini sebagian besar karyawan yang ada
memilih berhenti bahkan ada juga yang mengundurkan diri. Para karyawan
ini baik laki-laki maupun perempuan.
“Mereka libur silih berganti, ketika memasuki musim tanam giliran
perempuan yang libur bahkan sampai ada yang mengundurkan diri,”
ungkapnya.
Pihaknya mengaku tidak bisa mencegah pilihan yang diambil oleh sejumlah
karyawan. Pasalnya, selama ini tidak ada ikatan kerja yang jelas antara
pengusaha dan karyawannya. Status mereka adalah buruh harian lepas yang
biasa berpindah-pindah tempat kerja. Sehingga sulit melakukan ikatan
kerja.
“Mereka bisa kerja hanya dalam satu minggu, setelah itu pindah ke
pekerjaan lain. Dan ketika sekarang mau mencari buruh baru juga sangat
sulit. Karena mereka memilih untuk menjadi buruh di sawah,” katanya.
Salah seorang karyawan pabrik genting, Yudi (40) mengaku untuk sementara
waktu dirinya memilih keluar dari pabrik genting. Hal ini seiring
dengan dimulainya musim tanam padi. Dirinya bersama istri memilih untuk
keluar karena ikut membajak.
“Nanti ketika panen itu dapat jatah padi dari pemilik sawah,” ujarnya.
Namun, ia mengakui ketika musim tanam selesai, tidak menutup kemungkinan
dirinya bersama istri akan kembali masuk ke pabrik genting. Menurutnya,
ini sudah biasa terjadi di kalangan buruh pabrik genting.
“Untuk bajak dan tanam, paling sekitar 2 minggu. Setelah itu, mungkin
nanti masuk lagi ke pabrik. Dan ini sudah biasa terjadi setiap musim
tanam dan panen” ucap dia. (rcc)
MAJALENGKA – Sejumlah pengusaha genting di Kabupaten Majalengka mengaku
kesulitan untuk merekrut karyawan di pabrik miliknya. Pasalnya, seiring
memasuki musim tanam kali ini, sejumlah pekerja memilih sementara untuk
berganti menjadi buruh tani.Salah seorang pengusaha genting, Asep mengatakan peristiwa ini kerap menjadi langganan setiap tahunnya atau memasuki musim tanam padi. Seperti halnya musim tanam kali ini sebagian besar karyawan yang ada memilih berhenti bahkan ada juga yang mengundurkan diri. Para karyawan ini baik laki-laki maupun perempuan.
“Mereka libur silih berganti, ketika memasuki musim tanam giliran perempuan yang libur bahkan sampai ada yang mengundurkan diri,” ungkapnya.
Pihaknya mengaku tidak bisa mencegah pilihan yang diambil oleh sejumlah karyawan. Pasalnya, selama ini tidak ada ikatan kerja yang jelas antara pengusaha dan karyawannya. Status mereka adalah buruh harian lepas yang biasa berpindah-pindah tempat kerja. Sehingga sulit melakukan ikatan kerja.
“Mereka bisa kerja hanya dalam satu minggu, setelah itu pindah ke pekerjaan lain. Dan ketika sekarang mau mencari buruh baru juga sangat sulit. Karena mereka memilih untuk menjadi buruh di sawah,” katanya.
Salah seorang karyawan pabrik genting, Yudi (40) mengaku untuk sementara waktu dirinya memilih keluar dari pabrik genting. Hal ini seiring dengan dimulainya musim tanam padi. Dirinya bersama istri memilih untuk keluar karena ikut membajak.
“Nanti ketika panen itu dapat jatah padi dari pemilik sawah,” ujarnya.
Namun, ia mengakui ketika musim tanam selesai, tidak menutup kemungkinan dirinya bersama istri akan kembali masuk ke pabrik genting. Menurutnya, ini sudah biasa terjadi di kalangan buruh pabrik genting.
“Untuk bajak dan tanam, paling sekitar 2 minggu. Setelah itu, mungkin nanti masuk lagi ke pabrik. Dan ini sudah biasa terjadi setiap musim tanam dan panen” ucap dia. (rcc) Redaksi 16:24:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Musim Tanam, Pabrik Genting Sepi Karyawan
Posted by Admin Sunday, 8 June 2014
loading...
»Share or Like News:
Musim Tanam, Pabrik Genting Sepi Karyawan
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
16:24:00
