Kisah pilu nelayan Cilincing usai BBM bersubsidi dibatasi

Posted by Admin Friday, 22 August 2014

Jakarta - Pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar mendapat respons negatif dari para nelayan di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Seperti yang diungkapkan Tomi (43), dirinya begitu kesulitan untuk mendapatkan penghasilan lebih dari pekerjaannya sebagai nelayan.
"Kami sebagai nelayan juga sudah kesulitan dalam perekonomian, apalagi sekarang solar dibatasi," ungkap Tomi di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (5/8) lalu.

Tomi mengaku penghasilannya selama ini hanya sebesar Rp 150 ribu per hari, itu pun belum adanya pembatasan pembelian Solar. Belum lagi dirinya harus membayar sewa kapal yang disewanya dari orang lain.

"Saya sehari dapat paling besar Rp 150-Rp 200 ribu sehari, itu pun kalau cuacanya bagus. Nah sekarang ada pembatasan beli solar enggak habis pikir pemerintah sama saja seperti menghakimi kami sebagai kaum kecil," kesalnya.

Selain itu, Tomi mengaku dirinya bersama para nelayan lainnya juga begitu kesulitan bahkan tidak bisa membeli solar di Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPDN).

"Kalau bisa jangan dibatasi, apalagi kami para nelayan pendapatan sangat kecil sekali. Selama ini kami bila ingin membeli solar pun harus mempunyai surat langganan," ungkap Tomi.

Tidak berbeda dengan Tomi, Arman (42) seorang nelayan yang juga bekerja sebagai pengecer solar menolak adanya kebijakan tersebut. Bahkan, lanjutnya, selama ini ia juga sudah mengurus surat pengguna langganan di SPDN tersebut, namun hingga saat ini suratnya tak kunjung selesai.

"Kalau bisa ya jangan dibatasi, saya saja ngurus surat langganan sampai saat ini belum kelar," ucapnya.(Merdeka).

loading...
»Share or Like News: Kisah pilu nelayan Cilincing usai BBM bersubsidi dibatasi
RADIO SONG FM INDRAMAYU Updated at: 15:49:00

GUMIWANG KOMUNIKA INDRAMAYU

VIDEO KABAR ARTIS

VIDEO LAGU BARU SONG FM

INFO GEMPA KLIK DIBAWAH