Jakartra - Fenomena kabut asap sepertinya mulai melingkupi Bengkulu. Kendati tak masif, tetapi selama beberapa waktu ini, mulai dirasakan oleh nelayan tradisional di Bengkulu.
Ratusan nelayan yang mayoritas masih mengandalkan navigasi alam, terpaksa tak melaut karena keterbatasan jarak pandang.
Seperti diakui Izhur Cino, nelayan tradisional dari kelurahan Malabero, Kota Bengkulu. Selama beberapa waktu ini, akibat keterbatasan jarak pandang, sebagian nelayan yang memaksakan melaut tak sedikit yang akhirnya kehilangan arah.
"Kami ini tidak menggunakan navigasi
modern
.
Kami masih menggunakan navigasi sederhana dan lebih mengacu tanda
alam, seperti puncak gunung dan tanjung darat, karena tebalnya tutupan
kabut membuat kami kehilangan arah," kata Izhur, Sabtu 27 September
2014.Apalagi, beberapa waktu ini kondisi gelombang laut terbilang berbahaya, sehingga sangat riskan bila melaut tanpa mengetahui arah.
"Arus deras dan gelombang tinggi juga sangat menyulitkan nelayan untuk membentang jaring dan pukat,” kata Izhur.
Harga ikan mahal
Kondisi inipun berimbas pada turunnya ketersediaan ikan laut segar di pasaran. Akibatnya, harga jual ikan pun melonjak naik.
Mayoritas pedagang mengaku, terpaksa mengandalkan pasokan ikan dari nelayan
modern
. Itupun hanya terbatas pada ikan jenis tertentu."Nelayan banyak tak melaut, jadi ikan terbatas. Kalaupun ada, hanya ikan sekelas tuna dan ikan putih, yang harganya lebih mahal. Padahal, sebelumnya nelayan tradisional banyak yang menjual tangkapannya kepada kami," ujar salah seorang pedagang ikan di kawasan Pasar Barukoto, Kota Bengkulu, Zainal.
Hingga kini, di sejumlah pasar tradisional lonjakan harga ikan masih saja terjadi. Jika sebelumnya dalam kondisi normal, harga ikan berkisar antara Rp12-20 ribu per kg, saat ini naik hingga kisaran Rp20-45 ribu per kg.
"Kami terpaksa menjual dengan harga mahal. Sebab, modalnya juga besar, karena sedikitnya ikan yang bisa dijual," kata Zainal.
loading...
»Share or Like News:
Kabut Asap, Ratusan Nelayan Tradisional di Bengkulu Setop Melaut

