Petani Pantura Andalkan Pompa Untuk Selamatkan Tanaman Padi

Posted by Admin Saturday, 6 September 2014

SUBANG -Pasokan air irigasi semakin minim, para petani di pantura Kabupaten Subang ramai-ramai menggunakan pompa. Selain harus mengeluarkan biaya tambahan, mereka juga bekerja ekstra hampir setiap hari mengoperasikan pompa air.

Dari pantauan, Jumat, (5/9/2014) di sejumlah daerah sering terlihat aktifitas petani di beberapa daerah, seperti Ciasem, Pamanukan, Pusakanagara, Pusakajaya dan Legonkulon mengangkut pompa, setiap pagi dan memasuki sore hari. Kesibukan itu terlihat di sekitar aliran sungai maupun saluran irigasi ketika air mengalir.

 Biasanya petani yang menggunakan pompa kecil, mereka tidak memasang pompa permanen. Para petani menggunakannya fleksibel pada saat dibutuhkan, sehingga setiap hari selalu dibawa pulang pergi.

Sedangkan pompa yang dipasang permanen biasanya berukuran besar, dan milik kelompok atau gabungan kelompok tani. Saat ini tak ada pilihan lain, mereka terpaksa harus menggunakan pompa untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman kekeringan, menyusul minimnya pasokan air irigasi.

"Setiap musim gadu satu kami harus kerja ekstra, tiap hari mengairi sawah pakai air sungai menggunakan pompa. Soalnya air di saluran irigasi sudah minim, kadang tak sampai ke sawah saya," kata Takdim warga Ciasem Hilir Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang.

Dia mengatakan selain menambah pekerjaan, biaya yang dikeluarkan bertambah besar. Sebab memompa air bisa digunakan setiap 1 - 2 hari sekali, tergantung kondisi cuaca.

Itu artinya harus mengeluarkan biaya untuk membeli BBM. "Kalau sawah saya tak terlalu luas, semusim buat BBM diperkirakan habis Rp 600 ribu - Rp 800 ribu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tak disiram tanaman padi bisa mati," ujarnya.

Pendapat sama dikatakan Muslih, petani Kalentambo Kecamatan Pusakanagara. Dia mengatakan dirinya selalu membawa pulang pergi pompa yang digunakan. Sebab pompa air yang digunakannya ukuran kecil, sehingga bila dibiarkan khawatir hilang.

"Kalau pas pompa air harus ditunggui juga, mompa air kalau engak pagi ya sore. Tapi itu juga tergantung terik atau tidaknya sinar matahari, dan melihat kelembabahan tanah," ujarnya.

Sunan, petani di Desa Kebondanas, Kecamatan Pusakanagara dengan menggunakan pompa air biaya produksi menjadi membengkak, bertambah hingga 30 persen atau bisa antara Rp 1 hingga Rp 2 juta.
Apabila dalam kodisi normal biaya produksi tanam padi setiap hektare antara Rp 5 hingga Rp 6 juta, saat ini paling rendah bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta.

Hal sama dikatakan Muslimin petani asal Desa Kalentambo, Kecamatan Legonkulon. Buat mengoperasikan pompa mengairi 10 hektare sawah milik kelompok memerlukan tambahan biaya Rp 600 ribu per 24 jam. "Biayanya ditanggung bersama, iuran dengan petani lain," katanya.

Camat Pusakanagara, Ela Nurlela mengatakan di daerahnya dari luas areal sawah 3.060 hektare saat ini sudah ditanami baru 40 persen, itupun bisa mendapatkan air dengan bantuan pompa.

Sedangkan sisanya belum bisa ditanam karena minim air. "Yang sudah ditanam saja, mungkin setengahnya bisa aman, dan sebagian lagi terancam kekeringan. Sebab air sudah minim, pasokan air irigasi tak bisa menjangkau semua lahan sawah," ujarnya., (PRLM).

loading...
»Share or Like News: Petani Pantura Andalkan Pompa Untuk Selamatkan Tanaman Padi
RADIO SONG FM INDRAMAYU Updated at: 08:59:00

GUMIWANG KOMUNIKA INDRAMAYU

VIDEO KABAR ARTIS

VIDEO LAGU BARU SONG FM

INFO GEMPA KLIK DIBAWAH