INDRAMAYU - Rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Indramayu hanya sampai kelas enam sekolah dasar (SD). Hal itu akibat mahalnya biaya pendidikan dan kurangnya industri yang dinilai menjadi penyebab kondisi tersebut.
Data dari BPS Provinsi Jawa Barat pun menyebutkan angka rata-rata lama bersekolah atau MYS, warga Kabupaten Indramayu pada 2015 hanya 5,46 tahun. Angka itu naik sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,45 tahun.
Angka rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Indramayu tersebut terendah di Jabar. Bahkan, Kabupaten Indramayu tertinggal cukup jauh dari kabupaten/kota tetangganya di Wilayah Ciayumajakuning. Seperti Kota Cirebon, rata-rata lama bersekolah warganya mencapai 9,76 tahun, Kabupaten Cirebon 6,32 tahun, Kabupaten Majalengka 6,8 tahun dan Kabupaten Kuningan 7,2 tahun.
Hal itu dibenarkan Kabid Data Informasi Penelitian dan Analisis Pembangunan Bappeda Kabupaten Indramayu, Dadang Oce Iskandar.
Menurutnya, masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Indramayu terlihat dari indikator yang dinilai dalam indeks pembangunan manusia (IPM). Dalam IPM, tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Indramayu memang rendah. Meski begitu daya belinya tinggi.
“Pernah dilakukan survei mengenai kondisi mental masyarakat Indramayu yang berusia 14 – 55 tahun. Dari hasil survei itu, ada yang memilih lebih baik tidak bersekolah dibandingkan bersekolah. Dan penyebabnya, sekolah dinilai akan memberi banyak beban,” tutur Oce, beberapa hari lalu kepada wartawan.
Beban itu, lanjut Oce, di antaranya menyangkut biaya sekolah. Karenanya dengan tidak bersekolah mereka akan terbebas dari beban biaya tersebut. Selain itu, kondisi Indramayu yang merupakan daerah agraris, juga turut memperlemah motivasi warga untuk bersekolah hingga jenjang yang tinggi. Pasalnya, hanya dengan bersekolah sampai tingkat SD, mereka sudah bisa bekerja di sawah.
Kondisi ini berbeda dengan masyarakat yang daerahnya merupakan kawasan industri. Masyarakatnya akan termotivasi untuk berpendidikan tinggi minimal tamat SMA yang tujuannya agar bisa bekerja di pabrik. Untuk itu ndiharapkan Oce, agar pemerintah harus memberikan fasilitas yang bisa meningkatkan motivasi warga untuk bersekolah.
Sementara itu, Azun Maauzun anggota Komisi B DPRD Kabupaten Indramayu, saat dimintai tanggapan mengungkapkan, rendahnya angka rata-rata lama bersekolah warga Indramayu itu disebabkan mahalnya biaya pendidikan. Karena selama ini imej pendidikan gratis namun pada kenyataannya banyak pungutan. Akibatnya, masyarakat jadi takut untuk melanjutkan pendidikan.
Dia menyebutkan, contoh pungutan dalam dunia pendidikan itu di antaranya berupa sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Bahkan, Azun pernah mendapatkan laporan adanya siswa SMK yang tidak bisa mengikuti ujian tengah semester (UTS) karena tidak mampu membayar SPP. Termasuk rendahnya tingat pendidikan warga Kabupaten Indramayu disebabkan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan yang dipicu minimnya pabrik di Indramayu yang mensyaratkan pekerjanya berpendidikan minimal SMA sederajat., (KC Online).
Home
»
Ekonomi
»
Indramayu
»
Pendidikan
»
Peristiwa
»
Pendidikan Warga Indramayu Rata-rata Hanya Tamat SD
INDRAMAYU - Rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Indramayu hanya sampai kelas enam sekolah dasar (SD). Hal itu akibat mahalnya biaya pendidikan dan kurangnya industri yang dinilai menjadi penyebab kondisi tersebut.
Data dari BPS Provinsi Jawa Barat pun menyebutkan angka rata-rata lama bersekolah atau MYS, warga Kabupaten Indramayu pada 2015 hanya 5,46 tahun. Angka itu naik sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,45 tahun.
Angka rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Indramayu tersebut terendah di Jabar. Bahkan, Kabupaten Indramayu tertinggal cukup jauh dari kabupaten/kota tetangganya di Wilayah Ciayumajakuning. Seperti Kota Cirebon, rata-rata lama bersekolah warganya mencapai 9,76 tahun, Kabupaten Cirebon 6,32 tahun, Kabupaten Majalengka 6,8 tahun dan Kabupaten Kuningan 7,2 tahun.
Hal itu dibenarkan Kabid Data Informasi Penelitian dan Analisis Pembangunan Bappeda Kabupaten Indramayu, Dadang Oce Iskandar.
Menurutnya, masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Indramayu terlihat dari indikator yang dinilai dalam indeks pembangunan manusia (IPM). Dalam IPM, tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Indramayu memang rendah. Meski begitu daya belinya tinggi.
“Pernah dilakukan survei mengenai kondisi mental masyarakat Indramayu yang berusia 14 – 55 tahun. Dari hasil survei itu, ada yang memilih lebih baik tidak bersekolah dibandingkan bersekolah. Dan penyebabnya, sekolah dinilai akan memberi banyak beban,” tutur Oce, beberapa hari lalu kepada wartawan.
Beban itu, lanjut Oce, di antaranya menyangkut biaya sekolah. Karenanya dengan tidak bersekolah mereka akan terbebas dari beban biaya tersebut. Selain itu, kondisi Indramayu yang merupakan daerah agraris, juga turut memperlemah motivasi warga untuk bersekolah hingga jenjang yang tinggi. Pasalnya, hanya dengan bersekolah sampai tingkat SD, mereka sudah bisa bekerja di sawah.
Kondisi ini berbeda dengan masyarakat yang daerahnya merupakan kawasan industri. Masyarakatnya akan termotivasi untuk berpendidikan tinggi minimal tamat SMA yang tujuannya agar bisa bekerja di pabrik. Untuk itu ndiharapkan Oce, agar pemerintah harus memberikan fasilitas yang bisa meningkatkan motivasi warga untuk bersekolah.
Sementara itu, Azun Maauzun anggota Komisi B DPRD Kabupaten Indramayu, saat dimintai tanggapan mengungkapkan, rendahnya angka rata-rata lama bersekolah warga Indramayu itu disebabkan mahalnya biaya pendidikan. Karena selama ini imej pendidikan gratis namun pada kenyataannya banyak pungutan. Akibatnya, masyarakat jadi takut untuk melanjutkan pendidikan.
Dia menyebutkan, contoh pungutan dalam dunia pendidikan itu di antaranya berupa sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Bahkan, Azun pernah mendapatkan laporan adanya siswa SMK yang tidak bisa mengikuti ujian tengah semester (UTS) karena tidak mampu membayar SPP. Termasuk rendahnya tingat pendidikan warga Kabupaten Indramayu disebabkan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan yang dipicu minimnya pabrik di Indramayu yang mensyaratkan pekerjanya berpendidikan minimal SMA sederajat., (KC Online).
Anonymous 16:23:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Data dari BPS Provinsi Jawa Barat pun menyebutkan angka rata-rata lama bersekolah atau MYS, warga Kabupaten Indramayu pada 2015 hanya 5,46 tahun. Angka itu naik sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,45 tahun.Angka rata-rata lama sekolah warga Kabupaten Indramayu tersebut terendah di Jabar. Bahkan, Kabupaten Indramayu tertinggal cukup jauh dari kabupaten/kota tetangganya di Wilayah Ciayumajakuning. Seperti Kota Cirebon, rata-rata lama bersekolah warganya mencapai 9,76 tahun, Kabupaten Cirebon 6,32 tahun, Kabupaten Majalengka 6,8 tahun dan Kabupaten Kuningan 7,2 tahun.
Hal itu dibenarkan Kabid Data Informasi Penelitian dan Analisis Pembangunan Bappeda Kabupaten Indramayu, Dadang Oce Iskandar.
Menurutnya, masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Indramayu terlihat dari indikator yang dinilai dalam indeks pembangunan manusia (IPM). Dalam IPM, tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Indramayu memang rendah. Meski begitu daya belinya tinggi.
“Pernah dilakukan survei mengenai kondisi mental masyarakat Indramayu yang berusia 14 – 55 tahun. Dari hasil survei itu, ada yang memilih lebih baik tidak bersekolah dibandingkan bersekolah. Dan penyebabnya, sekolah dinilai akan memberi banyak beban,” tutur Oce, beberapa hari lalu kepada wartawan.
Beban itu, lanjut Oce, di antaranya menyangkut biaya sekolah. Karenanya dengan tidak bersekolah mereka akan terbebas dari beban biaya tersebut. Selain itu, kondisi Indramayu yang merupakan daerah agraris, juga turut memperlemah motivasi warga untuk bersekolah hingga jenjang yang tinggi. Pasalnya, hanya dengan bersekolah sampai tingkat SD, mereka sudah bisa bekerja di sawah.
Kondisi ini berbeda dengan masyarakat yang daerahnya merupakan kawasan industri. Masyarakatnya akan termotivasi untuk berpendidikan tinggi minimal tamat SMA yang tujuannya agar bisa bekerja di pabrik. Untuk itu ndiharapkan Oce, agar pemerintah harus memberikan fasilitas yang bisa meningkatkan motivasi warga untuk bersekolah.
Sementara itu, Azun Maauzun anggota Komisi B DPRD Kabupaten Indramayu, saat dimintai tanggapan mengungkapkan, rendahnya angka rata-rata lama bersekolah warga Indramayu itu disebabkan mahalnya biaya pendidikan. Karena selama ini imej pendidikan gratis namun pada kenyataannya banyak pungutan. Akibatnya, masyarakat jadi takut untuk melanjutkan pendidikan.
Dia menyebutkan, contoh pungutan dalam dunia pendidikan itu di antaranya berupa sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Bahkan, Azun pernah mendapatkan laporan adanya siswa SMK yang tidak bisa mengikuti ujian tengah semester (UTS) karena tidak mampu membayar SPP. Termasuk rendahnya tingat pendidikan warga Kabupaten Indramayu disebabkan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan yang dipicu minimnya pabrik di Indramayu yang mensyaratkan pekerjanya berpendidikan minimal SMA sederajat., (KC Online).
Anonymous 16:23:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Pendidikan Warga Indramayu Rata-rata Hanya Tamat SD
Posted by Admin Sunday, 20 November 2016
loading...
»Share or Like News:
Pendidikan Warga Indramayu Rata-rata Hanya Tamat SD
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
16:23:00
