PT Pertamina terkesan mendadak dalam menaikkan harga elpiji non
subsidi untuk ukuran 12 kilogram. Mereka beralasan, hal itu untuk
mencegah adanya penimbunan elpiji apabila ada sosialisasi kenaikan
elpiji biru.
"Tidak ada sosialisasi kenaikan harga. Sosialisasi itu ibarat pisau
bermata dua," kata VP Corporate Communication, Ali Mundakir, kepada
wartawan di kantor Pertamina Pusat, Jakrta, Kamis 2 Januari 2013.
Ali menjelaskan, misalnya, sosialisasi dilakukan seminggu
sebelumnya, masyarakat akan merasa kebingungan. Sebab, masyarakat tidak
bisa berbuat banyak untuk menyetok elpiji.
"Kalau gas masih separuh (separuh kosong), masyarakat tidak bisa
beli. Yang ada, malah oknum yang menimbun stok. Ujung-ujungnya,
masyarakat yang kesulitan. Masyarakat yang benar-benar habis akan
kesulitan (dapatkan elpiji)," kata dia.
Ali melanjutkan, Pertamina melakukan hal seperti itu untuk mencegah
penimbunan tersebut. "Kami tidak memberi kesempatan kepada oknum yang
ingin menimbun elpiji. Kami ingin menjaga pasokan," ujarnya.
Dia mengatakan, sebelumnya Pertamina berencana menaikkan elpiji
pada 2013, sebelum kenaikan BBM bersubsidi. Sebab, ada rencana untuk
menaikkan harga BBM bersubsidi, perusahaan pelat merah ini menunda
kenaikan bahan bakar elpiji.
Lagipula, menurut Ali, perusahaan pelat merah ini mengacu kepada
Peraturan Menteri ESDM No. 26 Tahun 2009 pasal 25 yang menyebutkan bahwa
harga jual elpiji 12 kg ditetapkan oleh badan usaha (dalam hal ini
Pertamina), dengan mempertimbangkan harga patokan elpiji, kemampuan daya
beli konsumen, dan pasokan elpiji.
"Harga gas Aramco US$1.172 per metrik ton. Kalau pakai kurs Rp10
ribu per dolar AS, harganya jadi Rp11.720. Kalau pakai kurs Rp12 ribu,
berapa itu harganya? Itu baru bahan baku elpiji. Penjualan elpiji kan,
ditambah pajak, marjin agen, filling cost, dan transportasi. Mungkin sekarang di atas Rp15 ribu," kata dia.
Dia menegaskan bahwa apabila perusahaan pelat merah ini tetap
menjual dengan harga keekonomian, yaitu berkisar Rp5.850 per kg,
Pertamina akan mengalami kerugian cukup besar. "Kalau dengan kondisi
ini, kami menjual dengan harga yang lama, potensi kerugian semakin besar
dan bisa mengancam keberlangsungan suplai," kata dia.(vv/red)
loading...
»Share or Like News:
Terkesan Dadakan, Ini Alasan Pertamina Naikkan Harga Elpiji Biru
