Jembatan Darurat di Bawah Jalur Pantura

Posted by Admin Saturday, 26 July 2014

INDRAMAYU,- Lantaran jalur pantura Indramayu padat dan banyak u-turn (putaran jalan) yang ditutup, warga Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, berinisiatif membuat jembatan alternatif untuk sekadar bisa menyebrang.

Jembatan alternatif itu mereka bangun persis di bawah jalur pantura yang melewati kali di wilayah Blok Maja, Desa Larangan. Bahan jembatan itu hanya terbuat dari kayu dan bambu.
Meski tersusun dari bahan seadanya, namun jembatan alternatif itu ternyata sangat dibutuhkan untuk masyarakat di sekitar Desa Larangan dan Waru untuk mobilitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan, Jumat (25/7/2014), jembatan itu tidak pernah sepi. Warga, banyak di antaranya juga yang menggunakan motor, melewati jembatan yang dipasang oleh warga Larangan, Rabu (23/7/2014).

Warga yang menggunakan motor terlihat harus ekstra hati-hati untuk bisa melewati jembatan penyebrangan itu. Pasalnya, jalan yang menurun untuk bisa mencapai jembatan penyebrangan membuat motor yang dikemudikan rentan terperosok.

Warpan (31), salah seorang penjaga jembatan tersebut, menuturkan, jembatan itu dibuat untuk menyambungkan antara Blok Maja, Desa Larangan, dengan Blok Kedung, Desa Waru.
Kedua desa itu berada di Kecamatan Lohbener. Menurutnya, bila di luar suasana mudik, warga tinggal menyebrang saja di jalur utama pantura bila ingin ke Desa Waru dari Desa Larangan, atau sebaliknya.

Akan tetapi, karena lalu lintas sudah mulai padat, warga jadi kesulitan untuk menyebrang. Terlebih kendaraan yang melewati jalur utama pantura rata-rata berkecepatan tinggi pula.
Sementara bagi pengendara motor, bisa menggunakan u-turn di daerah tersebut untuk menyebrang. Namun demikian, u-turn itu kini telah ditutup dengan tolo-tolo, sehingga tidak ada kendaraan yang bisa menembusnya.

"Jadi, kalau mau muter, sekarang harus ke putaran yang ada di Jatibarang dulu. Jadinya jauh sekali, bisa sampai 15 kilometer jarak yang ditempuh, dan itu hanya untuk bisa memutar saja," katanya.
Dia menambahkan, pihaknya bersama-sama warga Desa Larangan akhirnya berinisiatif membangun jembatan penghubung alternatif. Bagi warga yang hendak menggunakan jembatan tersebut dikenakan biaya rata-rata Rp 3.000. "Terserah kepada pengguna jembatannya saja. Seridhonya. Mereka bisa ngasih berapa saja," tuturnya.

Salah seorang pengguna jembatan, Kasni (43) mengatakan, adanya jembatan tersebut membantu dirinya untuk bisa ke arah Desa Waru untuk mencari bahan dagangannya.
Dia mengatakan, biasanya hanya cukup menyebrang dengan jalan kaki. Namun ternyata padatnya arus lalu lintas membuat dirinya segan untuk menyebrang. "Mobilnya cepet-cepet, dan nunggunya juga lama. Untungnya ada jembatan ini, jadi tidak kesal," tuturnya.

Dia menambahkan, adanya penutupan u-turn dengan tolo-tolo juga membuat banyak pengemudi motor tidak bisa langsung memutar. "Mungkin memang buat menghindari terjadinya kemacetan ya. Tapi, dampaknya juga jadi ada buat masyarakat di sini yang sehari-harinya menggunakan motor. Masa muternya jadi harus sampai ke arah Celeng," katanya.

Selama arus mudik ini, Polres Indramayu memang telah menutup ratusan u-turn. Penutupan dilakukan baik dengan cara memasang tolo-tolo, maupun dengan melakukan pembetonan.
Kasatlantas Polres Indramayu, Andry mengatakan, di sepanjang jalur pantura sendiri terdapat 343 u-turn, di mana hanya 32 di antaranya yang tergolong legal. Sementara sisanya adalah ilegal.
Dia mengatakan, sudah melakukan pengecoran terhadap 71 u-turn yang dianggap ilegal. Sementara sisanya ditutup hanya dengan menggunakan tolo-tolo.

"Penutupan dilakukan mengingat banyak warga yang menggunakan u-turn illegal yang dapat menghambat arus lalulintas dan menimbulkan kemacetan," ujarnya.(PRLM)

loading...
»Share or Like News: Jembatan Darurat di Bawah Jalur Pantura
RADIO SONG FM INDRAMAYU Updated at: 00:45:00

GUMIWANG KOMUNIKA INDRAMAYU

VIDEO KABAR ARTIS

VIDEO LAGU BARU SONG FM

INFO GEMPA KLIK DIBAWAH