INDRAMAYU - Korban
meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) di
Kabupaten Indramayu, kembali bertambah. Kali ini, korbannya adalah
Sintia (6 tahun), seorang bocah berusia enam tahun asal Desa Sumber
Jaya, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu. Meninggalnya Sintia saat
menjalani perawatan intensif di Ruang Anak RSUD setempat, Rabu
(13/1/2016). Sebelumnya, korban baru dibawa ke Rumah sakit tiga hari
lalu saat kondisinya sudah parah.
Pantauan dilapangan menyebutkan, isak
tangis histeris dari orang tua dan keluarga korban pecah seketika saat
tim medis menyatakan nyawa Sintia tidak bisa tertolong. Pasalnya,
mMereka tak menyangka jika Sintia meninggal karena DBD.
Orang tua
korban, Dikin (29 tahun) mengatakan, sebelumnya saat sakit Sintia hanya
dirawat di rumah dan mendapatkan perawatan dari keluarganya. Meski suhu
bandannya panas disertai demam tinggi, Sintia tak segera dibawa ke RSUD
hingga akhirnya trombositnya terus menurun. Namun setelah ada saran dari
beberap tetangganya, kemudian Sintia dibawa ke RSU. Di tempat itu
langsung mendapatkan perawatan. Hanya saja nyawanya tak tertolong yang
mengakibatkan meninggal dunia.
Direktur Utama RSUD Indramayu,
Deden Boni Koswara menjelaskan, Sintia masuk ke RSUD Indramayu pada 10
Januari 2016 dengan kondisi umum trombositnya hanya 116 ribu. Namun
kemudian, angka trombositnya terus menurun menjadi 29 ribu pada 13
Januari 2016 dan meninggal dunia. " Dalam keadaan normal, nilai
trombosit semestinya berkisar antara 150 ribu - 450 ribu. Kasus DBD saat
ini sedang naik, " ucapnya.
Dikatakannya, sejak Oktober 2015,
kasus DBD yang ditangani di RSUD Indramayu terus meningkat. Tercatat,
sejak Oktober 2015 sampai saat ini, pasien DBD yang dirawat di rumah
sakit tersebut mencapai 505 orang, dari jumlah itu, 11 orang telah
meninggal dunia.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Indramayu, peningkatan kasus DBD sudah terjadi sejak November 2015. Pada
November - Desember 2015, tercatat penderita DBD sebanyak 135 orang
dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 16 orang. Sedangkan
secara keseluruhan selama 2015, kasus DBD mencapai 614 kasus dengan
korban meninggal 31 orang. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan 2014
yang hanya 318 kasus, dengan korban meninggal mencapai 17 orang.
Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi mengatakan, untuk
mengatasi lonjakan kasus DBD, pihaknya telah melakukan fogging di
sejumlah lokasi. Untuk itu, dia berharap, masyarakat turut aktif
memberantas DBD dengan melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN) melalui
'gerakan 3M' yakni menguras, menutup, mengubur benda-benda yang dapat
menampung air.
" Kalau fogging itu hanya bisa membunuh nyamuk dewasa
saja, namun tidak bisa membunuh jentik nyamuk. Maka cara yang efektif
sebaiknya masyarakat aktif melakukan PSN," pintanya.
INDRAMAYU - Korban
meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) di
Kabupaten Indramayu, kembali bertambah. Kali ini, korbannya adalah
Sintia (6 tahun), seorang bocah berusia enam tahun asal Desa Sumber
Jaya, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu. Meninggalnya Sintia saat
menjalani perawatan intensif di Ruang Anak RSUD setempat, Rabu
(13/1/2016). Sebelumnya, korban baru dibawa ke Rumah sakit tiga hari lalu saat kondisinya sudah parah.
Pantauan dilapangan menyebutkan, isak tangis histeris dari orang tua dan keluarga korban pecah seketika saat tim medis menyatakan nyawa Sintia tidak bisa tertolong. Pasalnya, mMereka tak menyangka jika Sintia meninggal karena DBD.
Orang tua korban, Dikin (29 tahun) mengatakan, sebelumnya saat sakit Sintia hanya dirawat di rumah dan mendapatkan perawatan dari keluarganya. Meski suhu bandannya panas disertai demam tinggi, Sintia tak segera dibawa ke RSUD hingga akhirnya trombositnya terus menurun. Namun setelah ada saran dari beberap tetangganya, kemudian Sintia dibawa ke RSU. Di tempat itu langsung mendapatkan perawatan. Hanya saja nyawanya tak tertolong yang mengakibatkan meninggal dunia.
Direktur Utama RSUD Indramayu, Deden Boni Koswara menjelaskan, Sintia masuk ke RSUD Indramayu pada 10 Januari 2016 dengan kondisi umum trombositnya hanya 116 ribu. Namun kemudian, angka trombositnya terus menurun menjadi 29 ribu pada 13 Januari 2016 dan meninggal dunia. " Dalam keadaan normal, nilai trombosit semestinya berkisar antara 150 ribu - 450 ribu. Kasus DBD saat ini sedang naik, " ucapnya.
Dikatakannya, sejak Oktober 2015, kasus DBD yang ditangani di RSUD Indramayu terus meningkat. Tercatat, sejak Oktober 2015 sampai saat ini, pasien DBD yang dirawat di rumah sakit tersebut mencapai 505 orang, dari jumlah itu, 11 orang telah meninggal dunia.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, peningkatan kasus DBD sudah terjadi sejak November 2015. Pada November - Desember 2015, tercatat penderita DBD sebanyak 135 orang dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 16 orang. Sedangkan secara keseluruhan selama 2015, kasus DBD mencapai 614 kasus dengan korban meninggal 31 orang. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan 2014 yang hanya 318 kasus, dengan korban meninggal mencapai 17 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi mengatakan, untuk mengatasi lonjakan kasus DBD, pihaknya telah melakukan fogging di sejumlah lokasi. Untuk itu, dia berharap, masyarakat turut aktif memberantas DBD dengan melakukan pembersihan sarang nyamuk (PSN) melalui 'gerakan 3M' yakni menguras, menutup, mengubur benda-benda yang dapat menampung air.
" Kalau fogging itu hanya bisa membunuh nyamuk dewasa saja, namun tidak bisa membunuh jentik nyamuk. Maka cara yang efektif sebaiknya masyarakat aktif melakukan PSN," pintanya. Redaksi 10:36:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Lagi, Korban Meninggal Akibat DBD di Indramayu
Posted by Admin Thursday, 14 January 2016
loading...
»Share or Like News:
Lagi, Korban Meninggal Akibat DBD di Indramayu
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
10:36:00
