INDRAMAYU - Sebanyak 50 persen buruh tani di Kabupaten Indramayu menganggur. Kondisi ini
menyusul karena musim tanam yang tidak serentak. Akhirnya membuat mereka
terpaksa berebut pekerjaan tanam. Bahkan ada yang terpaksa alih profesi untuk
menutupi kebutuhan ekonomi hidup sehari-hari.
Perihal itu dibenarkan oleh Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)
Kabupaten Indramayu Sutatang, Senin (11/1/2016). Menurut Tatang, kondisi
sekarang hampir 50 persen buruh tani yang menganggur. Perhitungan itu dari
sekitar 1,8 juta warga Kabupaten Indramayu yang 75 persen berprofesi sebagai
petani. Sementara yang berprofesi petani terdiri atas 40 persen buruh tani, 30
persen petani penggarap, dan 30 persen petani pemilik.Dengan kondisi curah hujan yang masih rendah, petani memulai tanam pun tak serentak bahkan tidak merata. Sementara debit irigasi masih rendah, sehingga baru menjangkau sejumlah kecamatan yang dekat dengan bendung/bendungan. Dsebutkan olehnya, wilayah-wilayah yang tanam terlebih dahulu, yakni Kecamatan Sukagumiwang, Tukdana, sebagian Widasari, Bangodua, sebagian Terisi, Gabuswetan, Kroya, Haurgeulis, sebagian Gantar, dan Anjatan. Wilayah tersebut mendapat pasokan dari Bendung Rentang Majalengka dan Waduk Jatiluhur Subang. Sementara daerah-daerah terujung saluran irigasi belum melaksanakan tanam.
"Kebanyakan yang belum tanam di daerah pesisir, seperti
Kecamatan Indramayu, Balongan, Lohbener, Cantigi, Arahan, dan lain-lain,"
ucapnya.
Akibat bertahapnya musim tanam, kata dia, buruh tani harus berebut pekerjaan satu sama lain. Oleh karena itu, upah tanam pun relatif normal dibandingkan dengan saat tanam serentak.
Akibat bertahapnya musim tanam, kata dia, buruh tani harus berebut pekerjaan satu sama lain. Oleh karena itu, upah tanam pun relatif normal dibandingkan dengan saat tanam serentak.
"Upah tanam relatif antardaerah, mulai dari Rp 50.000
sampai dengan Rp 70.000 per setengah hari. Dan Rp 70.000 samapai dengan Rp
85.000 hingga sore hari. Itu di luar makan dan rokok," katanya.
Daerah yang upahnya paling tinggi adalah yang berada di pesisir, seperti Kecamatan Indramayu, Balongan, dan Lohbener. Sebaliknya, tanam bertahap ini menguntungkan petani penggarap atau petani pemilik karena tak kesulitan mencari buruh tani.
Hanya saja disayangkan olehnya, bagi buruh tani yang tak mendapat pekerjaan, terpaksa beralih profesi untuk bertahan hidup.
Daerah yang upahnya paling tinggi adalah yang berada di pesisir, seperti Kecamatan Indramayu, Balongan, dan Lohbener. Sebaliknya, tanam bertahap ini menguntungkan petani penggarap atau petani pemilik karena tak kesulitan mencari buruh tani.
Hanya saja disayangkan olehnya, bagi buruh tani yang tak mendapat pekerjaan, terpaksa beralih profesi untuk bertahan hidup.
"Sebetulnya mereka lelah menunggu kapan mendapat
pekerjaan tanam, tetapi mereka tak bisa menunggu terus. Perut mereka harus
diisi. Ada yang jadi kuli bangunan, tukang becak, bahkan keluar kota
merantau," ucapnya.
loading...
»Share or Like News:
Lima Puluh Persen Petani Terancam Menganggur

