Nelayan Jember Kesulitan Tangkap Lobster

Posted by Admin Saturday, 17 December 2016

NASIONAL - Nelayan di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengeluhkan akibat minimnya tangkapan Lobster pada tahun 2016.

Pasalnya, ribuan nelayan Kabupaten setempat memburu 'Bayi' Lobster dengan intensitas yang tinggi, sehingga stok Lobster dengan ukuran standar pasar susah ditemukan.

Nelayan Jember Kesulitan Tangkap Lobster

Hal ini diungkapkan salah seorang nelayan di Pantai Payangan, Dusun Watuulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Suyitno, Jumat (16/12). Menurutnya, terus berkurangnya hasil tangkapan Lobster dikarenakan semakin merajalela pencarian Lobster berukuran kecil yang dalam istilah lokal disebut Benur.

"Walaupun sudah mengetahui bahwa itu dilarang, tetapi beberapa nelayan masih saja mencari Benur. Akhirnya, bagi pencari Lobster ini kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar," kata Suyitno yang merupakan Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Lumba lumba itu.

"Saat ini sulit sekali untuk mendapatkan Lobster ukuran minimal 2 ons - 3 ons, karena masih Bayi saja sudah banyak ditangkap. Padahal nelayan tahu kalau itu melanggar aturan," imbuhnya.

Ia menambahkan, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) nomor 1 tahun 2015, pemerintah melarang penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan jika panjangnya masih belum memenuhi syarat.

"Aturannya, Lobster bisa ditangkap jika ukuran karapas lebih dari 8 cm, Kepiting 15 cm dan Rajungan 10 cm. Jika di bawah itu, maka dianggap merusak kelestarian lingkungan laut. Itu sudah disosialisasikan oleh Disperikel Jember (Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan) Jember, tetapi nelayan beralasan bahwa ini persoalan perut (pendapatan) dan keberlangsungan pendidikan anak nelayan," terang Suyitno.

Menurut Suyitno, beberapa nelayan memilih untuk melanggar aturan dikarenakan paceklik ikan seiring masuknya musim penghujan, sehingga hasil tangkapan ikan nelayan menurun. Kegiatan penangkapan Benur ini mulai dilakukan sekitar dua tahun yang lalu dan kian merajalela pada tahun ini.

"Di sisi lain, Benur lebih mudah didapat. Jika mencari ikan harus berlayar ke tengah laut, namun untuk mencari Benur cukup menaruh alat tangkapnya dan menunggu semalam saja. Bahkan 5 meter dari tepi karang nelayan sudah bisa dapat Benur," paparnya.

Mengenai harga jual, Suyitno menyebutkan, seekor Benur saat ini dihargai antara Rp 4.000 - Rp 8.000. Sementara seorang nelayan bisa mendapatkan sekitar 300 - 500 ekor Benur dalam semalam.

"Satu nelayan bisa melepas 8 - 10 alat tangkap dalam semalam. Alat tangkap yang digunakan yaitu dari serabut kelapa yang disusun dengan jaring nelayan. Pendapatan nelayan yang mencari Benur minimal Rp 1,5 juta per hari, sementara nelayan yang mencari ikan hanya ratusan ribu saja. Tentu saja banyak nelayan yang beralih mencari Benur," tuturnya.

Kasi Pengembangan, Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Perikanan dan Kelautan Disperikel Kabupaten Jember, Suhartono, mengatakan, tercatat ada ribuan nelayan di dua kecamatan se Kabupaten Jember yang mencari Benur.

"Pencari Benur di Kecamatan Puger dulu sekitar 4.500 nelayan, sedangkan di Kecamatan Ambulu sekitar 250 nelayan. Tetapi jumlah ini kian menurun sekitar 50 persen sejak dua sampai tiga hari ini," klaim Suhartono saat dikonfirmasi terpisah.

Menurutnya, penurunan jumlah pencari Benur ini akibat mulai banyaknya ikan di laut, sehingga beberapa nelayan sudah mulai melaut mencari ikan dibandingkan Benur. Pihaknya sudah menghimbau kepada nelayan agar menghentikan perburuan Benur.

"Pemerintah pusat akan efektif menerapkan Permen KKP nomor 1 pada Januari tahun 2017, sehingga akhir Desember 2016 ini merupakan batasan waktu untuk nelayan berhenti mencari Benur. Penindakan ada pada Dinas Perikanan Provinsi, jika nelayan Jember tetap bersikukuh mencari Benur dan tertangkap Pol Air Provinsi, maka Disperikel Jember tidak akan bertanggung-jawab," tegasnya.

Suhartono menambahkan, salah satu faktor penyebab masih masif nya perburuan Benur di Jember, yakni karena masih banyaknya Tengkulak di setiap kawasan pesisir. Berdasarkan data yang ia himpun, di Ambulu terdapat 4 - 5 Tengkulak besar sedangkan di Puger ada sekitar 15 Tengkulak.

"Seharusnya penindakan tegas harus lebih dimaksimalkan pada penangkapan para Tengkulak. Jika tidak ada Pasar nya (yang membeli Benur), pasti nelayan tidak akan mencari Benur. Sehingga produksi Lobster di Jember bisa kembali normal," tukasnya.

(suarajatimpost.com)

loading...
»Share or Like News: Nelayan Jember Kesulitan Tangkap Lobster
RADIO SONG FM INDRAMAYU Updated at: 12:07:00

GUMIWANG KOMUNIKA INDRAMAYU

VIDEO KABAR ARTIS

VIDEO LAGU BARU SONG FM

INFO GEMPA KLIK DIBAWAH