SUMBER,- Proses seleksi dan rekrutmen perajin yang akan
menempati Pasar Batik di Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten
Cirebon paling cepat dilaksanakan pada kuartal keempat 2014.
Seleksi yang sedianya dilakukan sejak akhir Februari lalu itu
terpaksa ditunda, karena pembenahan bangunan pasar baru akan
dilaksanakan pertengahan 2014.
Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Kabupaten Cirebon Rukadi
Suminta menegaskan, sejak awal komitmen tim seleksi yang dibentuk awal
2014 lalu tidak berubah.
“Kami akan tetap memprioritaskan perajin kecil yang belum memiliki
showroom sebagai penghuni pasar batikt tersebut,” katanya saat dihubungi
Minggu (4/5/2014).
Menurut Rukadi, isu yang beredar bahwa pengusaha besar akan ikut
menghuni pasar batik tidaklah benar. Selain proses seleksinya belum
dimulai, tim seleksi juga belum mendapat instruksi perubahan untuk
kriteria perajin yang akan direkrut nantinya.
Isu perajin besar akan ikut menempati Pasar Batik Weru santer beredar
setelah munculnya pernyataan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo) Kabupaten Cirebon, Edi Baredi. Ia menilai bahwa keterlibatan
pengusaha batik besar di pasar tersebut bisa menarik konsumen.
Selain itu perajin besar juga bisa menciptakan klasifikasi kelas agar
konsumen tidak memandang bahwa batik khas Cirebon tidak hanya digunakan
oleh kelas menengah ke bawah.
Santernya isu tersebut sempat membuat Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi
berang. Ia bersikeras bahwa pasar batik harus ditempati oleh perajin
kecil yang belum memiliki showroom saja. Dengan begitu, karya mereka
juga bisa ditampilkan dan dilihat oleh konsumen secara langsung.
Seperti diberitakan sebelumnya, proses pembangunan Pasar Batik Weru
memang beberapa kali sempat terhambat. Bahkan bangunan yang sudah jadi
pun sempat terbengkalai dan dipenuhi ilalang. Namun awal 2014 lalu,
Pemkab Cirebon memutuskan untuk segera memanfaatkan bangunan yang sudah
ada agar tak lagi terbengkalai.
Kepala Seksi Bangunan dan Gedung pada Dinas Cipta Karya Kabupaten
Cirebon Yedi Adhi Priatna mengatakan, dari 198 kios yang direncanakan
akan dibangun, baru 112 kios yang berdiri.
Sementara dari 500 perajin batik yang ada di Kabupaten Cirebon, 400
belum memiliki showroom. Merekalah yang nantinya akan ditempatkan di
kios yang sudah ada dengan asumsi satu kios dihuni 2-3 perajin.
Menurut Yedi, untuk membangun sisa 86 kios yang direncanakan serta
fasilitas pendukung seperti seperti areal parkir, gapura, tugu, selasar
koridor, dan lain-lain, pihaknya masih membutuhkan Rp 12 miliar.
Namun tahun ini, APBD Kabupaten Cirebon an Provinsi Jawa Barat baru
mengucurkan sekitar Rp 4 miliar untuk merampungkan fasilitas pendukung
agar kios yang ada bisa dimanfaatkan.// (PRLM).
SUMBER,- Proses seleksi dan rekrutmen perajin yang akan
menempati Pasar Batik di Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten
Cirebon paling cepat dilaksanakan pada kuartal keempat 2014. Seleksi yang sedianya dilakukan sejak akhir Februari lalu itu terpaksa ditunda, karena pembenahan bangunan pasar baru akan dilaksanakan pertengahan 2014.
Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Kabupaten Cirebon Rukadi Suminta menegaskan, sejak awal komitmen tim seleksi yang dibentuk awal 2014 lalu tidak berubah.
“Kami akan tetap memprioritaskan perajin kecil yang belum memiliki showroom sebagai penghuni pasar batikt tersebut,” katanya saat dihubungi Minggu (4/5/2014).
Menurut Rukadi, isu yang beredar bahwa pengusaha besar akan ikut menghuni pasar batik tidaklah benar. Selain proses seleksinya belum dimulai, tim seleksi juga belum mendapat instruksi perubahan untuk kriteria perajin yang akan direkrut nantinya.
Isu perajin besar akan ikut menempati Pasar Batik Weru santer beredar setelah munculnya pernyataan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Cirebon, Edi Baredi. Ia menilai bahwa keterlibatan pengusaha batik besar di pasar tersebut bisa menarik konsumen.
Selain itu perajin besar juga bisa menciptakan klasifikasi kelas agar konsumen tidak memandang bahwa batik khas Cirebon tidak hanya digunakan oleh kelas menengah ke bawah.
Santernya isu tersebut sempat membuat Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi berang. Ia bersikeras bahwa pasar batik harus ditempati oleh perajin kecil yang belum memiliki showroom saja. Dengan begitu, karya mereka juga bisa ditampilkan dan dilihat oleh konsumen secara langsung.
Seperti diberitakan sebelumnya, proses pembangunan Pasar Batik Weru memang beberapa kali sempat terhambat. Bahkan bangunan yang sudah jadi pun sempat terbengkalai dan dipenuhi ilalang. Namun awal 2014 lalu, Pemkab Cirebon memutuskan untuk segera memanfaatkan bangunan yang sudah ada agar tak lagi terbengkalai.
Kepala Seksi Bangunan dan Gedung pada Dinas Cipta Karya Kabupaten Cirebon Yedi Adhi Priatna mengatakan, dari 198 kios yang direncanakan akan dibangun, baru 112 kios yang berdiri.
Sementara dari 500 perajin batik yang ada di Kabupaten Cirebon, 400 belum memiliki showroom. Merekalah yang nantinya akan ditempatkan di kios yang sudah ada dengan asumsi satu kios dihuni 2-3 perajin.
Menurut Yedi, untuk membangun sisa 86 kios yang direncanakan serta fasilitas pendukung seperti seperti areal parkir, gapura, tugu, selasar koridor, dan lain-lain, pihaknya masih membutuhkan Rp 12 miliar.
Namun tahun ini, APBD Kabupaten Cirebon an Provinsi Jawa Barat baru mengucurkan sekitar Rp 4 miliar untuk merampungkan fasilitas pendukung agar kios yang ada bisa dimanfaatkan.// (PRLM). Redaksi 07:27:00 NJW Magz Bandung Indonesia
Seleksi Penghuni Pasar Batik Paling Cepat Kuartal Keempat 2014
Posted by Admin Monday, 5 May 2014
loading...
»Share or Like News:
Seleksi Penghuni Pasar Batik Paling Cepat Kuartal Keempat 2014
Previous
Newer PostNext
Older Post
RADIO SONG FM INDRAMAYU
Updated at:
07:27:00
