CIREBON - Tingginya harga gabah di tingkat petani, mengakibatkan Bulog Subdivre Cirebon kesulitan melakukan pengadaan gabah.
Saat ini harga gabah kering panen di tingkat petani mencapai Rp 4.500 per kg, sementara harga pembelian pemerintah untuk GKP hanya Rp 3.300 per kg.
Saat ini, stok beras yang ada di gudang-gudang subdivre Cirebon sebanyak 68.500 ton, dari target 120 ribu ton.
Berbagai upaya penyerapan gabah pun terus diupayakan Subdivre Cirebon.
Kepala Subdivre Bulog Cirebon, Yayat Hidayat Fatahillah, mengakui seretnya pengadaan gabah, karena tingginya harga.
"Untuk membeli beras dan gabah dari petani, Bulog tidak bisa lepas dari harga pembelian yang sudah ditetapkan oleh pemerintah," katanya Rabu (20/8/2014).
Saat ini, lanjut Yayat, stok beras yang ada di gudang-gudang subdivre Cirebon sebanyak 68.500 ton.
Jumlah itu diakui Yayat masih jauh di bawah target penyerapan, tahun ini sebesar 120 ribu ton.
Namun, lanjut Yayat, penjualan beras langsung ke Bulog memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya Bulog mampu menyerap berapa pun beras yang dijual oleh petani.
"Kelebihan lainnya yakni pembayaran, kami lakukan secara tunai, hari itu juga," katanya.
Karenanya Bulog Subdivre Cirebon tetap berusaha memaksimalkan penyerapan beras dari petani. Terlebih saat ini mendekati
musim panen.
Sementara itu Sekretaris HKTI Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar, mengakui saat ini harga gabah masih tinggi dan jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP).
"Harga gabah kering panen saat ini masih dalam kisaran Rp 4.500/kg," kata Tasrip.
Tasrip bahkan memprediksi, harga gabah akan terus mengalami kenaikan. "Puncaknya pada November mendatang, harga gabah bisa mencapai kisaran Rp 5.500 per kg," jelasnya.
Menurutnya, saat ini masa paceklik, sehingga otomatis harga gabah tinggi. Selain itu petani juga tidak menjual semua gabah hasil panen musim tanam gadu.
"Petani akan menjualnya sedikit demi sedikit menunggu hingga masa puncak paceklik tiba," tukasnya.
Dengan harga yang tinggi, kata Tasrip, petani akan lebih memilih untuk menjual gabah ke pasaran. "Tinggal kewajiban pemerintah saja untuk mengatur regulasi harga di pasaran," tukasnya.
Tasrip menegaskan, tingginya harga gabah karena areal pertanian yang panen di Kabupaten Cirebon baru sekitar 30 persen.
Areal panen tersebar antara lain di Kecamatan Ciwaringin, Kecamatan Susukan, Kecamatan Gintung dan Kecamatan Palimanan.
"Sisanya baru akan panen sebulan hingga dua bulan ke depan," katanya
loading...
»Share or Like News:
Pengadaan Gabah Seret, Akibat Tingginya Harga

