“Negara maju seperti AS membangun hampir 200 PLTN. Prancis, Jerman, dan Jepang masing-masing memiliki hampir 100 PLTN, menjadi penunjang sumber energi non-fosil. Tiongkok menyusul dengan puluhan PLTN. Mitos bahaya PLTN sebaiknya diatasi dengan sosialisasi intensif. Bangun segera fasilitas penampungan cadangan minyak jadi untuk bertahan 100 hari berkapasitas 120 juta barel, tanpa impor,” paparnya.
Ia berpendapat, target zero impor BBM harus diupayakan dalam lima tahun. Konsumsi BBM untuk transportasi sebesar 70 persen konsumsi nasional, serta BBM untuk listrik PLN maupun swasta sebesar 30 persen, menjadi nol dalam lima tahun.
Menurutnya, seluruh minyak produksi dalam negeri tidak lagi digunakan untuk kendaraan, tapi digunakan untuk bahan baku (feed stock) industri hilir (petro-kimia), karena akan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang sangat signifikan.
Sementara itu, dari sisi suplai, Effendy mengatakan perlunya percepatan realisasi peningkatan produksi, sesuai Inpres No. 2 Tahun 2012.
“Stop ketidakpastian status kontrak lapangan produksi asing yang praktis seluruhnya akan berakhir 5-10 tahun. Pastikan tidak diperpanjang dan dikembalikan kepada negara, dikelola bangsa sendiri. Penurunan produksi selama satu dekade ini salah satunya karena tidak ada kepastian status kontrak setelah masa berakhirnya,” tandas Effendy.
Pengalaman dua dekade terakhir, sambungnya, pengalihan lapangan produksi eks-asing kepada perusahaan nasional praktis menghasilkan kenaikan produksi signifikan. Bila dikombinasikan dengan eksplorasi intensif, berpotensi menaikkan produksi minyak nasional dari 800 ribu bph menjadi 1,1 juta bph. Selama 120 tahun, 23 miliar barel minyak diproduksi perusahaan asing, dengan sekitar 3 miliar barel minyak yang tersisa (cadangan terbukti).
“Seharusnya, perusahaan produksi asing tidak perlu diperpanjang, karena perusahaan nasional sudah sangat siap,” katanya.
loading...
»Share or Like News:
Darurat Energi, Diversifikasi Energi

